« January 2008 | Main | March 2008 »

Friday, 22 February 2008

air mata bunda

bunda jangan kau menangis lagi
tangisan mu membuatku sedih
bahkan lebih sedih saat menderita karena kepayahan
bahkan lebih sakit saat menderita karena sakit ini

bunda jangan kau menangis lagi
tangisan mu memedihkan hatiku
jiwaku tak kuasa mendengar isak tangismu
hatiku tak mampu melihatmu tetesan air mata itu

aku menangis bukan karena sakit
aku menangis karena melihatmu menangis bunda
hatiku sedih bukan karena aku sakit
hatiku sedih karena melihatmu bersedih bunda

terimakasih bunda untuk segala doa demi kesembuhanku
waktu yang kau curahkan untuk merawat aku
bahkan tidur yang berkurang untuk menjagaku

meski tak jarang aku membantah
tak jarang pula kita berselisih paham
tapi aku tahu cintamu begitu tulusnya untukku
Engkaulah orang yang paling berharga dalam hidupku Bunda. .

Bunda jangan menangis lagi. .
Aku akan bertahan untuk mu
karena aku sangat mencintaimu









ur daughter

                            

Tuesday, 19 February 2008

i'm give up

aku benar-benar tidak bisa terima dengan kenyataan yang begitu menyakitkan ini. .
kenapa? kenapa jadi begini?
belum cukupkah penderitaanku selama ini?
hidup di antara perbedaan yang menyakitkan. .
terjepit dalam dua kubu kehidupan dan tersakiti karenanya?
situasi yang dilemmatis. .yang membuat air mata terus terurai untuk berjuang mengambil jalan yang terbaik. .
kenapa?
kenapa aku masih harus dijejali dengan persoalan hidup dan mati lagi? lagi? dan lagi?

apakah ini semua salahku?
apa harus aku yang menanggung semua ini?
CUKUP!
aku berteriak CUKUP!
apakah ada yang mengerti?
ada yang memahami?
hati ini gundah. .
kalau memang ini waktunya biarlah biar aku pergi. .
aku pun sudah tak sanggup hadapi semua ini. .
bukan hal mudah bagiku dan mungkin untuk semua orang di dunia ini. .
menerima kenyataan bahwa hatinya telah hancur, fisiknya pun merapuh, dan orang-orang yang terbaik perlahan menjauh. .

masihkah ku harus bertahan?
sampai kapan?
aku sekarat kau tahu?
aku kesakitan kau mengerti?
aku tak tahan lagi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

apa ku harus habiskan waktuku di meja operasi?
menghabiskan sisa hidupku dalam rumah sakit?
aku tak mau. .
aku tak mau. .
dan tak kan pernah mau. .
i'm give up!
yeah i'm give up!. .
aku terlalu rapuh untuk membebani ini semua dan sendiri. .
aku terlalu sakit untuk memendam semua ini dan sendiri
aku ingin berteriak mencari keadilan dunia. .
atau mencari keadilan Tuhan. .
apa Tuhan?
apa maksudMu?
kalau memang aku sudah tak berarti lagi biarkan aku pergi. .
pergi ke tempat yang tenang selamanya. .

Sunday, 10 February 2008

Kebimbangan

Esoknya, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, Septi datang ke rumah pamanku untuk menjemput diriku tentunya. Kami pergi kembali ke kampus untuk mengembalikan formulirku. Cukup lama mengantri akhirnya aku telah selesai mengembalikan formulir dan mendapatkan kartu peserta ujian.

Awalnya aku berencana untuk mengajaknya berjalan-jalan, tapi lagi-lagi dia menolak. Alasannya dia ada janji dengan temannya dan dia harus segera pulang. Tapi dia masih sempat nganterin aku ke warnet lho!

Mungkin dia pikir Cuma hal itu yang bisa dilakukannya untuk saat itu. Tapi dari lubuk hatiku, aku masih merasa gak enak, serasa punya hutang banyak sama dia. Untuk itu aku masih berusaha terus menjaga hubungan dengannya.

Hampir setiap hari kita ber-sms ria, bahkan tak jarang dia menelponku. Seperti saat ada acara di keluarganya. Kebetulan pada saat acara tersebut aku sempat datang ke rumahnya di pagi hari. Agak sedikit heran, karena dia seperti acuh tak acuh padaku. Dia malah meninggalkanku dengan keluarganya yang belum begitu aku kenal. Dia seperti tidak memperdulikanku saat itu. Oleh karena itu, saat kakak-kakakku memutuskan untuk pulang berisitirahat dan kembali lagi sorenya untuk acara syukuran, aku pun memutuskan untuk ikut. Tanpa pamit dulu kepadanya aku pulang, meskipun di sepanjang jalan perasaan kecewa begitu berkecamuk dalam hati.

Sampai di rumah pamanku, tak lama ada telepon masuk dari nomor yang tak dikenal karena tak tercantum di buku telepon yang ada di ponselku. Pelan-pelan aku angkat telepon itu, tak lama orang di seberang sana bicara.

“Halo! Anti, ini aku Septi,” ujar orang di seberang sana.

“Oh, Septi aku kira siapa abis nomornya beda sih. Ada apa?” tanyaku.

“Sorry aku pake nomor kakakku. Kamu lagi dimana?”

“Di rumah Om Dave, emang kenapa?”

“Eh, ada siapa di dekat kamu?”

“Ga ada siapa-siapa. Emang kenapa?” memang kebetulan tak ada siapa-siapa di dekatku karena semua orang sedang beristirahat di kamarnya masing-masing.

“Oh, ga baguslah kalo ada orang kan gak enak. Malu!”

“Hahahahahaha. Malu? Malu kenapa? Nyantai aja lagi!”

“Eh, gak ada yang tahu kan kalo aku telepon kamu?”

“Gak. Emang kenapa sih? Aneh deh!”

“Gak. Kamu nanti sore datang kan?”

“Gak tau. Mungkin. Tadi kamu kemana sih?”

“Datang ya! Tadi aku bantu-bantu di dalam rumah, kan aku laki-laki masa diam aja di rumah,” jawabannya diplomatis banget, ngebuat aku yang tadinya mau marah jadi gak jadi.

“Oh, ya sudah. Tapi gak janji ya!”

“Pokoknya harus dateng aku tungguin!”

“Yee maksa!”

“Ya, udah dulu ya! Nanti ketahuan kakakku. Sampai jumpa Anti!”

“Hahahaha dasar! Ya udah bubye!” telepon pun terputus.

Tak lama aku pergi tapi bukan untuk ke rumah Septi melainkan pergi ke rumah tanteku di tempat lain. Ya, sore itu akhirnya aku tidak pergi ke rumah Septi seperti rencana awal, tapi malah pergi ke rumah tanteku karena suatu keperluan. Sepertinya kini giliran Septi yang kecewa.

“Halo! Anti ya!?” aku mengangkat teleponku saat aku sedang ada di motor bersama sepupuku.

“Ada apa Septi? Maaf ya ga bisa datang!”

“Aku kira kamu mau datang. Tadi rombongan kakak-kakakmu udah datang ke rumah aku kira kamu ikut, aku cari-cari kamu tapi gak ada. Kenapa kamu gak datang?”

“Aduh maaf Septi. Aku harus pergi ke rumah tanteku. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Maaf banget ya! Lagian tadi waktu aku datang kamu malah ilang sih!?”

“Padahal aku mau ketemu kamu. Ya udah deh kamu lagi dimana sekarang?”

“Lagi di jalan. Duh, maaf banget ya Septi!”

“Oh, ya sudah kalo gitu. Hati-hati ya di jalan!”

“Iya. Maaf ya Sep! Jangan marah ya!”

“Gak kok. Dag Anti!”

“Dag Septi!”

Dari nadanya aku sadar sekali kalau Septi sangat kecewa karena ketidak-hadiranku di acara keluarganya. Itu benar-benar terbukti dengan isi smsnya di malam hari. Kebetulan setelah acara tersebut dia meng-sms aku sampai aku beranjak tidur. Salah satu sms-nya berbunyi demikian.

“Iya sh acranya emg skses n rmai tp ttp aja ada yg krng yg bkn aq sdh. Ada yg ga dtg di acra itu”

Aku sadar banget, yang dimaksud dia dalam sms-nya itu adalah aku. Dia sedih karena aku gak dateng. Hahahahaha jadi ge-er deh dibilang gitu, tapi mungkin emang salahku juga. Lantas dengan perasaan bersalah aku membalasnya demikian.

“Maaf Sep!mngkn org itu g dtg krn ada suatu alsn yg ngbwt dy g bs dtg.jgn sdh y!suatu saat km psti bkl ktmu sm dy”

Tanpa sadar aku telah memberikannya sedikit harapan dan sebuah jurang yang mulai akan mengubah hidup dan perasaanku. Tiba-tiba tanpa sadar aku jatuh cinta padanya. Perasaanku mulai goyah dan diam-diam menyimpan perasaan padanya. Padahal dari awal aku hanya menganggapnya teman dan sampai perasaan itu muncul aku masih menampiknya, aku masih mendustai perasaanku sendiri, membohongi diriku sendiri bahwa aku sesungguhnya telah mencintainya.

Sms demi sms yang masuk ke dalam ponselku dari dia selalu aku balas. Begitupun dengannya, meski kadang terlambat tapi dia selalu berusaha untuk membalasnya, meski kadang gak punya pulsa tapi ada aja yang bisa dia lakukan untuk membalas sms aku. Hampir setiap pagi dia mengirimkanku sms selamat pagi dan puisi-puisi cinta yang cukup romantis entah dengan maksud apa. Sampai pada suatu malam sebuah sms telah memaksa aku untuk berusaha jujur pada diriku sendiri. Aku benar-benar terpana dan gak tau harus bilang apa saat membaca sms itu.

“Kok km blm mkn sih?mkn dong entar skt lho!aq dsn lg bkr2 ikn sm tmn2 aku,emg knp?km mau?”

“ih,km kok bkr2 ikn ga ngjk2 knln aq dunx k tmn2 km.iy,aq mw dunx ikn bkrx kyx enk tuh!hehehehehe”

“bknx gtu dsn tuh co smua.kl km mau aq suapin dh!hehehe”

“emg knp klo co smw?emg ga blh tw?emg bs nyuapin aq?aq kn dsni,km dsna”

“bs.skr kmu pejamkn mta kmu trus byngn aq ada ddpn kmu lg nyuapin kmu.lakuin ya jgn smp ga”

“hahaha.km tuh ada2 aja deh!”

“psti km ga lakuin apa yg aq blng td.pdhl aq mknnya td smbl ngbyngn km lho!”

Oh, my God! Aku bener-bener bingung, aku kira dia cuma main-main aja. Aku kira dia Cuma becanda aja tapi dia jadi ngambek gitu. Apa aku harus mulai jujur dengan perasaanku? Apa aku memang benar-benar cinta padanya? Tapi bagaimana dengannya? Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Apakah dia juga mencintaiku? Apakah dia juga menyayangiku? Dan apa maksud sms-smsnya selama ini? Puisi-puisinya? Apakah itu sebuah balasan atas perasaan ini? Atau cuma kebetulan saja?

Aku benar-benar bimbang. Aku bingung. Aku gak tau bagaimana harus menyikapi keadaan ini. Aku benar-benar mencintainya. Tapi aku bimbang.

Thursday, 07 February 2008

sepotong siang yang menggugah

Selesai dengan segala urusan daftar-mendaftar, aku segera bergegas dengannya meninggalkan kampus yang kami cita-citakan itu. Aku berencana pergi ke tempat pencetakan foto kilat untuk melengkapi kelengkapan administrasiku untuk mendaftar besok, tentunya diantar dengan Septi. Aku memang tak terlalu banyak tau jalan-jalan di tempat ini apalagi rute-rute angkotnya. Banyak sekali nama-nama jalan dan jalan-jalan yang besar, tapi tak satu pun yang akrab di telingaku. Akhirnya aku diantar ke sebuah daerah yang banyak pertokoannya, salah satu diantara deretan toko tersebut terdapat sebuah toko pencucian dan pencetakan foto yang cukup terkenal, yaitu fuji film.

Dengan menunggu beberapa menit saja, fotoku yang memang sudah berbentuk soft copy langsung tercetak dengan cukup baik. Namun, saat membayar sang kasir ternyata tak punya kembalian. Aku pun harus mencari uang receh untuk menebus foto tersebut, sedangkan aku sendiri tak tahu harus menukarkan uang itu dimana. Ide pun mengalir di otakku. Rencananya aku memang ingin mentraktir Septi makan siang, yang terlihat sangat lelah karena harus mengantarkanku. Perasaanku sangat gak enak, karena aku baru beberapa jam saja mengenal Septi, tapi sudah banyak merepotkannya.

Aku pun berbicara padanya untuk mengajaknya makan siang. Dan sesuai dengan perkiraanku dia menolak ajakanku. Tapi kupikir mungkin dia masih segan karena belum terlalu mengenalku, sehingga ku coba untuk meyakinkannya. Tapi dia tetap menolak. Sampai akhirnya aku mulai kesal, “Jadi lu itu maunya apa sih? Mau makan batu? Gue ajakin makan gak mau, minum gak mau. Apa sih maunya?” pembicaraan yang aku yakin sangat kasar banget, yang pernah keluar dari mulutku untuknya. Tapi dengan kepolosan dan keluguannya dia malah menjawab dengan sabar, “Bukan ka’, bukan begitu. Saya tidak enak saja. Masa baru kenal sudah ditraktir makan!?” itu alasan pertamanya. Akupun tak mau kalah, “Lantas aku apa? Aku baru kenal beberapa jam sama kamu tapi udah banyak ngerepotin kamu. Anterin kesini lah, kesitulah. Hah!? Apa? Udah deh kenapa sih makan aja susah?”

Dia tertunduk, “Itu kan lain. Udah lah.” Aku hanya terdiam, kulihat dia sedikit berpikir melihat raut wajahku yang semakin jutek lantas ia berkata, “Bukannya aku gak mau makan. Tapi aku kan laki-laki, masa dibayarin sama perempuan, kan gak enak,” ujarnya dengan polos. ‘Ya ampun! Jadi itu toh masalahnya! Busyet dah!’ hatiku berucap. “Hahahahaha. Dasar laki-laki aneh!” ujarku tanpa sadar.

“Apa? Aneh? Siapa yang aneh?”
“Kamu. Lagian apa sih bedanya laki-laki yang bayarin sama perempuan yang bayarin kan sama aja!? Gengsi?” Dia hanya terdiam mendengar perkataanku. Panas memang begitu terik siang itu, saat kami sedang berjalan mencari pecahan uang untuk membayar cetakan fotoku itu.

“Duh, aku jadi inget sama teman-temanku yang ada di Jakarta. Mereka tuh gak bakal pernah berpikir dua kali untuk bilang iya kalo soal traktiran. Meskipun Cuma ditraktir minum, gak kenal cewek atau cowok. Ini malah mikir, aneh!” sambungku lagi sambil geleng-geleng kepala.

“Eh, tuh ada KFC! Makan disitu aja yuk!” ajakku.
“Gak ah. Aku gak laper, serius deh!” tolaknya lagi.
“Septi, septi, aku tau kamu tuh capek, laper. Kenapa sih kamu nolak ajakanku terus?”
“Aku gak laper. Beneran deh!”

Akhirnya kuputuskan untuk masuk ke KFC. Tapi Septi tetap dengan pendiriannya, bahkan masuk ke restoran fast food yang cukup terkenalpun ia enggan. Aku pun membeli dua es krim sundae coklat saja untuk menukar uangku, tak peduli nanti Septi akan menerimanya dengan senang atau tidak, aku tetap membelikannya. Setelah membayar aku keluar dengan membawa dua gelas es krim dan memberikannya satu kepada Septi.

“Kok beli dua?” Tanya Septi saat mengambil satu gelas es krim yang memang kuberikan padanya.

“Kalau orangnya ada sepuluh, ya aku beli sepuluh. Karena orangnya Cuma dua, kamu dan aku, ya udah aku beli dua. Udah yuk kita ambil foto terus pulang!” ajakku.

Aku pun pulang dengannya ke rumah salah satu kerabatku, yang kebetulan ia juga mengenalnya. Tak lupa mengucapkan terimakasih dan membuat janji lagi dengannya untuk mengembalikan formulir esok hari, dan keliatannya dia yang jadi semangat. Agak bingung jadinya. Hehehehehehe.

sebuah awal

Di pagi yang cerah itu aku menjejakkan kakiku untuk yang kesekian kalinya ke tanah yang kuanggap sebagai kampung halamanku, Makassar. Sepertinya tak ada yang tahu tentang kedatanganku hari itu ke Makassar, bahkan di bandara yang seramai itu pun tak ku jumpai seorang pun yang ku kenal. Aku pun mendekatkan diri pada sebuah box telepon yang ada di dekat toilet bandara. Aku mengambil beberapa coin uang seratus rupiah dan lima ratusan yang ada di dompetku. Ku ambil telepon selulerku dan kucari nomor telepon-nomor telepon yang mungkin bisa kuhubungi melalui telepon umum ini, karena ponselku tidak ada pulsanya.

Awalnya kucoba menelpon tanteku ke ponsel flexinya, tapi ternyata tanteku sedang ada di jalan. Sedang mengantarkan adik sepupuku fashion show disalah satu mal yang ada di sana, sedangkan kakak sepupuku yang sedang hamil tak bisa menjemputku karena kehamilannya itu. Inginku menelpon opa, tapi aku tahu opa tak kan mungkin menjemputku. Aku pun mencoba menelpon ke rumah salah seorang sepupu jauhku. Tapi tak juga diangkat olehnya.

Aku agak mulai panik. Karena tak sedikit pun rute angkot yang ku hapal. Bahkan aku sudah lupa dengan jalan-jalan dan arah jalannya. Untuk naik taksi aku tak berani, karena takut dibohongi, diajak berputar-putar sama supir taksi yang iseng, bahkan mungkin saja aku malah dibawa ke tempat yang bertolak belakang dengan tujuanku, apalagi mengingat aku adalah seorang wanita. Meskipun  tanteku yang baik hati itu meyakinkanku untuk menggunakan taksi sebagai sarana transportasi agar aku bisa tiba dengan selamat dan praktis di rumah opa atau di rumahnya, namun aku tetap bersikukuh untuk tidak menggunakannya. Karena sudah banyak orang yang mengalami nasib buruk.

Untungnya tak lama bunda menelponku. Bunda pun memberiku petunjuk perjalanan dari bandara hingga menuju ke rumah opa dengan rute angkot. Bunda sendiri sudah menghubungi opa agar menjemputku di depan gang rumahnya. Tak lupa mentransferkanku pulsa, nominal pulsa yang terbanyak yang pernah aku terima untuk 3 tahun terakhir ini. Dengan tas-tas, yang tak bisa dibilang ringan, dan beberapa jinjingan, yang semakin memperberat bawaan ditanganku, aku berjalan dengan terengah-engah menuju keluar bandara, yang terasa sangat jauh den berat karena bawaanku dan teriknya matahari Makassar yang lebih terik daripada matahari di Pantai Ancol.

Tak mudah berjalan sendirian dari bandara menuju pintu keluar dengan bawaan sebanyak itu. Di luar sana ternyata ada segerombolan tukang ojek dan supir-supir taksi yang berusaha menawarkan jasanya. Bahkan ada beberapa orang yang terus-menerus memaksaku hingga tanpa sadar aku membentak mereka untuk segera menghentikan langkahnya mengejar-ngejar aku. Sampai akhirnya aku tiba di temnpat perhentian angkot. Aku pun menurunkan semua bawaanku dan menantikan angkot yang harus ku naiki tiba.

Tak sedikit orang yang aku tanya mengenai jurusan-jurusan angkot supaya aku bisa sampai di rumah opa, meskipun bunda sudah sangat jelas menjelaskannya secara terperinci. Turun-naik angkot harus aku lakukan dengan bawaan-bawaanku yang sangat merepotkan. Ada sedikit sesal dihatiku, kenapa buku-buku yang kelak tak berguna ini harus ikut kubawa sebagai penambah beban-bebanku? Tapi aku tetap bersemangat mengingat tujuanku disana hanya untuk satu hal yaitu kuliah.

Setelah satu jam dengan perjalanan penuh peluh dan melelahkan, akhirnya aku tiba di rumah opa. Rumah yang sedang dalam tahap renovasi itu memang agak sedikit berantakan di bagian depannya tapi kehangatan rumah itu mengalahkan segala kepenatan yang ada didadaku saat itu. Hanya duduk sebentar lantas mandi, karena sejujurnya aku belum mandi semenjak dari Jakarta. Penerbangan di pagi-pagi buta itu memaksaku untuk bangun lebih awal, tapi tetap saja aku kesiangan bahkan hampir ketinggalan pesawat.

Selesai mandi sesuai dengan rencana aku menelpon seorang teman –agak bingung sebenarnya mau menganggapnya teman karena pada saat itu aku belum benar-benar mengenalnya –dia seorang pria sebaya denganku, namanya Septi. Awalnya aku kira dia adalah seorang perempuan tapi setelah menelponnya aku baru tahu kalau dia adalah seorang pria. Dengannya aku pergi untuk mendaftar ke perguruan tinggi yang aku inginkan dan impikan selama ini. Memang bukan perguruan tinggi sehebat UI, IPB, atau ITB yang mungkin sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bukan juga tempat yang terlalu bergengsi seperti Trisakti, Tarumanegara, atau mungkin Atmajaya. Tapi itulah cita-cita dan impianku yang tak jauh berbeda dengan Septian.

Siang yang terik itu bersamanya dan motor ayahnya Septi, kami pergi menuju perguruan tinggi tersebut untuk mendaftar tes masuk. Dengan arahannya yang sudah mendaftar terlebih dahulu aku pergi membeli formulir dan mengambil formulir tersebut. Dan dia sudah bisa dipastikan selalu setia mendampingiku. Bahkan kakiku serasa tak bisa melangkah kalau dia tiba-tiba tak ada dalam penglihatanku. Aku memang buta soal tempat itu. Tapi aku juga merasakan chemistry yang aku dambakan dalam tempat itu.


*to be continued*