Kebimbangan
Esoknya, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, Septi datang ke rumah pamanku untuk menjemput diriku tentunya. Kami pergi kembali ke kampus untuk mengembalikan formulirku. Cukup lama mengantri akhirnya aku telah selesai mengembalikan formulir dan mendapatkan kartu peserta ujian.
Awalnya aku berencana untuk mengajaknya berjalan-jalan, tapi lagi-lagi dia menolak. Alasannya dia ada janji dengan temannya dan dia harus segera pulang. Tapi dia masih sempat nganterin aku ke warnet lho!
Mungkin dia pikir Cuma hal itu yang bisa dilakukannya untuk saat itu. Tapi dari lubuk hatiku, aku masih merasa gak enak, serasa punya hutang banyak sama dia. Untuk itu aku masih berusaha terus menjaga hubungan dengannya.
Hampir setiap hari kita ber-sms ria, bahkan tak jarang dia menelponku. Seperti saat ada acara di keluarganya. Kebetulan pada saat acara tersebut aku sempat datang ke rumahnya di pagi hari. Agak sedikit heran, karena dia seperti acuh tak acuh padaku. Dia malah meninggalkanku dengan keluarganya yang belum begitu aku kenal. Dia seperti tidak memperdulikanku saat itu. Oleh karena itu, saat kakak-kakakku memutuskan untuk pulang berisitirahat dan kembali lagi sorenya untuk acara syukuran, aku pun memutuskan untuk ikut. Tanpa pamit dulu kepadanya aku pulang, meskipun di sepanjang jalan perasaan kecewa begitu berkecamuk dalam hati.
Sampai di rumah pamanku, tak lama ada telepon masuk dari nomor yang tak dikenal karena tak tercantum di buku telepon yang ada di ponselku. Pelan-pelan aku angkat telepon itu, tak lama orang di seberang sana bicara.
“Halo! Anti, ini aku Septi,” ujar orang di seberang sana.
“Oh, Septi aku kira siapa abis nomornya beda sih. Ada apa?” tanyaku.
“Sorry aku pake nomor kakakku. Kamu lagi dimana?”
“Di rumah Om Dave, emang kenapa?”
“Eh, ada siapa di dekat kamu?”
“Ga ada siapa-siapa. Emang kenapa?” memang kebetulan tak ada siapa-siapa di dekatku karena semua orang sedang beristirahat di kamarnya masing-masing.
“Oh, ga baguslah kalo ada orang kan gak enak. Malu!”
“Hahahahahaha. Malu? Malu kenapa? Nyantai aja lagi!”
“Eh, gak ada yang tahu kan kalo aku telepon kamu?”
“Gak. Emang kenapa sih? Aneh deh!”
“Gak. Kamu nanti sore datang kan?”
“Gak tau. Mungkin. Tadi kamu kemana sih?”
“Datang ya! Tadi aku bantu-bantu di dalam rumah, kan aku laki-laki masa diam aja di rumah,” jawabannya diplomatis banget, ngebuat aku yang tadinya mau marah jadi gak jadi.
“Oh, ya sudah. Tapi gak janji ya!”
“Pokoknya harus dateng aku tungguin!”
“Yee maksa!”
“Ya, udah dulu ya! Nanti ketahuan kakakku. Sampai jumpa Anti!”
“Hahahaha dasar! Ya udah bubye!” telepon pun terputus.
Tak lama aku pergi tapi bukan untuk ke rumah Septi melainkan pergi ke rumah tanteku di tempat lain. Ya, sore itu akhirnya aku tidak pergi ke rumah Septi seperti rencana awal, tapi malah pergi ke rumah tanteku karena suatu keperluan. Sepertinya kini giliran Septi yang kecewa.
“Halo! Anti ya!?” aku mengangkat teleponku saat aku sedang ada di motor bersama sepupuku.
“Ada apa Septi? Maaf ya ga bisa datang!”
“Aku kira kamu mau datang. Tadi rombongan kakak-kakakmu udah datang ke rumah aku kira kamu ikut, aku cari-cari kamu tapi gak ada. Kenapa kamu gak datang?”
“Aduh maaf Septi. Aku harus pergi ke rumah tanteku. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Maaf banget ya! Lagian tadi waktu aku datang kamu malah ilang sih!?”
“Padahal aku mau ketemu kamu. Ya udah deh kamu lagi dimana sekarang?”
“Lagi di jalan. Duh, maaf banget ya Septi!”
“Oh, ya sudah kalo gitu. Hati-hati ya di jalan!”
“Iya. Maaf ya Sep! Jangan marah ya!”
“Gak kok. Dag Anti!”
“Dag Septi!”
Dari nadanya aku sadar sekali kalau Septi sangat kecewa karena ketidak-hadiranku di acara keluarganya. Itu benar-benar terbukti dengan isi smsnya di malam hari. Kebetulan setelah acara tersebut dia meng-sms aku sampai aku beranjak tidur. Salah satu sms-nya berbunyi demikian.
“Iya sh acranya emg skses n rmai tp ttp aja ada yg krng yg bkn aq sdh. Ada yg ga dtg di acra itu”
Aku sadar banget, yang dimaksud dia dalam sms-nya itu adalah aku. Dia sedih karena aku gak dateng. Hahahahaha jadi ge-er deh dibilang gitu, tapi mungkin emang salahku juga. Lantas dengan perasaan bersalah aku membalasnya demikian.
“Maaf Sep!mngkn org itu g dtg krn ada suatu alsn yg ngbwt dy g bs dtg.jgn sdh y!suatu saat km psti bkl ktmu sm dy”
Tanpa sadar aku telah memberikannya sedikit harapan dan sebuah jurang yang mulai akan mengubah hidup dan perasaanku. Tiba-tiba tanpa sadar aku jatuh cinta padanya. Perasaanku mulai goyah dan diam-diam menyimpan perasaan padanya. Padahal dari awal aku hanya menganggapnya teman dan sampai perasaan itu muncul aku masih menampiknya, aku masih mendustai perasaanku sendiri, membohongi diriku sendiri bahwa aku sesungguhnya telah mencintainya.
Sms demi sms yang masuk ke dalam ponselku dari dia selalu aku balas. Begitupun dengannya, meski kadang terlambat tapi dia selalu berusaha untuk membalasnya, meski kadang gak punya pulsa tapi ada aja yang bisa dia lakukan untuk membalas sms aku. Hampir setiap pagi dia mengirimkanku sms selamat pagi dan puisi-puisi cinta yang cukup romantis entah dengan maksud apa. Sampai pada suatu malam sebuah sms telah memaksa aku untuk berusaha jujur pada diriku sendiri. Aku benar-benar terpana dan gak tau harus bilang apa saat membaca sms itu.
“Kok km blm mkn sih?mkn dong entar skt lho!aq dsn lg bkr2 ikn sm tmn2 aku,emg knp?km mau?”
“ih,km kok bkr2 ikn ga ngjk2 knln aq dunx k tmn2 km.iy,aq mw dunx ikn bkrx kyx enk tuh!hehehehehe”
“bknx gtu dsn tuh co smua.kl km mau aq suapin dh!hehehe”
“emg knp klo co smw?emg ga blh tw?emg bs nyuapin aq?aq kn dsni,km dsna”
“bs.skr kmu pejamkn mta kmu trus byngn aq ada ddpn kmu lg nyuapin kmu.lakuin ya jgn smp ga”
“hahaha.km tuh ada2 aja deh!”
“psti km ga lakuin apa yg aq blng td.pdhl aq mknnya td smbl ngbyngn km lho!”
Oh, my God! Aku bener-bener bingung, aku kira dia cuma main-main aja. Aku kira dia Cuma becanda aja tapi dia jadi ngambek gitu. Apa aku harus mulai jujur dengan perasaanku? Apa aku memang benar-benar cinta padanya? Tapi bagaimana dengannya? Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Apakah dia juga mencintaiku? Apakah dia juga menyayangiku? Dan apa maksud sms-smsnya selama ini? Puisi-puisinya? Apakah itu sebuah balasan atas perasaan ini? Atau cuma kebetulan saja?
Aku benar-benar bimbang. Aku bingung. Aku gak tau bagaimana harus menyikapi keadaan ini. Aku benar-benar mencintainya. Tapi aku bimbang.


Recent Comments